N.I.L.A.I…ku

Nilai Kuis Harian (1-8)

Nilai Kuis Harian Rata-rata (10%)

Nilai Praktikum (25%)

Nilai Tugas Terstruktur (15%)

Nilai Ujian Tengah Semester (25%)

Nilai Ujian Akhir Semester (25%)

24 Tanggapan

  1. sore pak, ni yuli kelas A2 tadi siang saya tidak mengikuti kuis harian sub bab alga karena saya sedang sakit.
    mw tanya kapan ya saya bisa susulan?????
    makacih banyak ya pak….
    SEMANGATTT TERUUUSSSSSS YA PAK!!!!!!!!!!!!!

  2. ass.. pak…
    senin udah ujian y pak? wah, ternyata senin sy ujian 2, micro ma evolusi.. blm ngumpulin TT fistum hr senin jg lg… waduh.. saya kpn bljrnya y pak…
    tp tenang aja pak saya akan belajar teruzzzzzzzzzzzzz…
    pak mkch bgt2 y pak, dh ngajarin qt… moga bpk ngajar qt lg smt 5…
    doain y pak, biar bs ngerjain ujian.. amien
    wass…

  3. Ya Eka..saya doain mudah-mudahan Eka dan seluruh temen-temen A2 bisa mengerjakan UTS dan tugas terstruktur dengan baik…walaupun terasa berat….ya…Selamat Belajar

  4. semangat buat uts okey bro…. jgan lupa sinau ya temen teriak bisa kaupun akan yakin bisa

  5. ssseeeemmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmaaaaaanggggggatttttttttttttt.hob

  6. nilai uts masukan dalam blog ya pak thanks……………..

  7. OK Dani ..memang rencananya nilai UTS akan saya upload…tapi sabar…ya…saya masih koreksi..dan perlu konfirmasi ke pengampu lain untuk penilaian akhir UTS…terima kasih atas dukungannya….

  8. pak nilai ku kok jelek banget????
    gmn ya biar bs baik….
    kasih tugas atau gmn pak
    fajri B2

  9. Buat temen yang baik baik bantu temen yang ga mampu dalam mengerjakan ujian utama besok
    SEMANGAT 45

  10. BUAT CWE B2 yg ngerasa di sukai sama cwo tolong beri kesempatan untuk mencintaimu
    YANG NGERASA LHOOOOOOOOOO

  11. bt ANAK ANAK B2
    semangat ya
    berdoa juga
    jgn nyotek terus

  12. bapak ibu dosen tlong tampilin nilai UTS untuk semua kelas
    penting untuk motivasi mahasiswa

  13. buat anak biologi foto nya ga usah narsis2 bnget
    ora memper
    ora patut
    memper ding melas lah mbok nangis
    f
    a

    j
    r

    i

  14. miki anu fuad hasan
    karena aku paling ganteng
    jadi cuma fotoku aja yang harus nampang
    hehehehehehehehehehehehya mbok
    ora percaya
    cari aku

  15. ass.. pak?
    alhamdulillah, nilai aku lumayan pak, g sia2 ngelembur tengah mlm trz.. mudah2an UAS nilai qt baguz mua y pak….
    Dosenny ttp bpk j y, jgn gantiiiii…
    he.. mkch pak

  16. Mungkin setelah genetika mikroba…Pak Lestanto yang akan memberi kuliah…. Jadi kelas A2 bisa kembali…seperti kebiasaan semula….gak ada kuis harian lagi…jadi lebih bisa bernafas lega..he..he….

  17. Pak ko ganti dosen.aduh kmi pgn tetep ama pak hendro.jangan lupakan A2 pak.hahaha

  18. Aduh sedihnya.kya mau berpisah aja.padahal sering ketemu di S2 y pak

  19. mslh cwe buat aq ga konsen kuliah pak.minta petujuknya biar fokus di kuliah.

  20. malam pak…??”
    oya pak,akhirnya sya buat imail lg..
    truz dah buat blog tp lagi error…!!”

    Bij006127
    Endah Novya Dewi

  21. Menaggapi pertanyaan dan komentar Saudari Kuat Prabawati atas review yang berjudul Identifikasi Enterobacter sakazakii Sehubungan Dengan Spesies Enterobacter Dan Citrobacter muncul beberapa pertanyaan antara lain:
    1. Secara taksonomi, E. sakazakii itu seperti apa?
    2. Apa itu tipe Enterobacter sakazakii urutan16S rDNA?
    3. Hasil identifikasi kenapa E. sakazakii dikatakan serupa dengan Cirobacter koseri atau dengan Enterobacter cloacae atau pun C. freundii?
    4. Mengapa bakteri E. sakazaki ini dapat menimbulkan sejumlah penyakit seperti peradangan saluran pernafasan bahkan meningitis?
    5. Zat atau bagian apakah pada E. sakazaki yang dapat menyebabkan penyakit tersebut?
    6. Gejala-gejanya penyakitnya seperti apa???
    Bakteri Enterobacter sakazakii baru dinyatakan sebagai spesies tersendiri pada 1980 oleh Farmer dkk. Namanya E. sakazakii, untuk menghormati ahli taksonomi bakteri Jepang, Dr Riichi Sakazakii (1920-2002). Klasifikasi dari bakteri ini yaitu:
    Kingdom : Bacteria
    Filum : Proteobacteria
    Kelas : Gamma Proteobacteria
    Ordo : Enterobacteriales
    Famili : Enterobacteriaceae
    Genus : Enterobacter
    Enterobacter sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. E. sakazakii merupakan salah satu patogen yang pada tahun 1980 dipisahkan dari spesies Enterobacter cloacae, berdasarkan pada genetik penyusunnya, perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E sakazakii 53-54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Sebelumnya E. sakazakii dikenal dengan yellow-pigmented cloacae yang pertama kali dilaporkan oleh Pangalos (1929). E. Sakazakii dimasukkan dalam tren perkembangan patogen dunia sejak tahun 2005 dan banyak diulas oleh para peneliti dari seluruh dunia. E. sakazakii menjadi perhatian karena tingkat mortalitas yang tinggi (40-80%) pada bayi yang baru lahir (0-6 bulan), terutama sekali bayi prematur atau yang memiliki imunitas lebih rendah dari rata-rata bayi-bayi lainnya.
    Penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternative dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya.
    E. sakazakii berkembangan optimal pada kisaran suhu 30-40°C. Waktu regenerasi bakteri ini terjadi setiap 40 menit jika diinkubasi pada suhu 23°C, yang tentunya akan sedikit lebih cepat pada suhu optimum pertumbuhannya. Kontaminasi satu koloni E. Sakazakii memiliki peluang hidup maksimum sebesar 6.5% untuk dapat berkembang hingga mencapai jumlah yang signifikan (1 juta sel/g produk) dalam waktu maksimal 100 jam pada suhu 18-37°C. Artinya, apabila 1 sel hidup E. sakazakii mengkontaminasi produk susu formula pada proses produksi. Hanya dalam 5 hari, produk tersebut telah menjadi sangat berbahaya bagi bayi
    Selain bersifat invasif, E. sakazakii juga memproduksi toksin (endotoxin) yang juga berbahaya bagi mamalia yang baru lahir dan belum memiliki sistem kekebalan yang baik. Ada kecurigaan bahwa bakteri ini bersifat airborne (mengkontaminasi lewat udara) pada industri susu dan rumah tangga. Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
    Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
    Sifat bakteri ini invasif dan memproduksi endotoksin dan zat beracun yang disebut enterotoksin. Bakteri ini tergolong ganas karena kemampuannya dalam memengaruhi bakteri lain, misalnya Escherichia coli, untuk memproduksi racun yang sama. Menurut dr. Dwi Wastoro Dadiyanto, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah, gejala yang dapat timbul pada manusia akibat infeksi bakteri ini antara lain:
    1. Nafsu makan hilang
    2. Suhu tubuh terganggu.
    3. Jika berat, infeksi dapat mengakibatkan meningitis (radang selaput otak) sehingga dapat mengganggu sistem saraf pusat.
    Gejala-gejala lain yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.
    E. sakazakii merupakan bakteri yang berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Spesies Enterobacter ini dapat ditemukan di produk pangan lain selain susu formula: keju, daging, sayuran, biji-bijian, kondimen dan bumbu-bumbuan. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu,Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides, Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis Salmonella lainya.

    PROSES PENCEMARAN
    Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu, sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
    Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.
    Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.

    YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH MASYARAKAT ADALAH
    1. Kontaminasi Enterobacter sakazakii berbahaya bagi bayi usia 0-6 bulan dan merupakan ancaman bagi bayi pada usia 6-12 bulan, terutama bayi lahir prematur atau bayi dengan daya tahan rendah.
    2. Tidak perlu cemas karena keberadaan E. sakazakii di dunia dan di Indonesia hanya berada pada kisaran rendah (20%) dari populasi produk susu formula, dapat ditemukan secara sporadis, tidak tergantung dari brand produk tersebut.
    3. E. sakazaki banyak pula ditemukan pada produk lainnya seperti keju, daging, hingga sayuran.

    SARAN YANG DAPAT DIIKUTI
    Adapun saran pencegahan yang saat ini dapat dilakukan oleh para konsumen adalah:
    1. Bila sebelumnya susu bayi cukup dicampur dengan air hangat, maka sekarang cobalah untuk merendam susu bubuk dengan air panas (85-100°C) selama 1-2 menit sebelum ditambahkan air dingin untuk mereduksi jumlah koloni hidup bakteri.
    2. Tidak menggunakan produk susu bubuk yang kemasannya telah terbuka cukup lama (lebih dari 8 hari) atau dibeli dalam kemasan yang sudah tidak baik atau bocor.
    3. Simpanlah susu bubuk yang telah dibuka kemasannya di dalam lemari pendingin (suhu <5°C) untuk mencegah pertumbuhan mikroba, bukan hanya E. sakazakii.
    4. Cucilah bahan makanan yang biasa dimakan mentah dengan sanitiser, bukan hanya air mengalir, untuk mereduksi kontaminasi mikroba pada bahan pangan tersebut.
    5. Konsultasikan dengan dokter/tenaga medis terhadap penggunaan susu formula bagi bayi berusia 0-6 bulan, terutama sekali bayi lahir prematur atau yang memiliki daya tahan lemah.
    6. Waspada terhadap gejala demam dan diare yang merupakan indikasi infeksi, apapun mikroorganismenya, bukan hanya E. sakazakii.

    JURUS SAKTI PENAKLUK E. SAKAZAKII
    Agar terhindar dari infeksi bakteri E. sakazakii, usahakanlah untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayi. Percayalah, hanya ASI yang terbaik untuk buah hati tercinta kita. Namun bila terpaksa memberikan susu formula, ada beberapa cara yang direkomendasikan oleh WHO (2007) untuk mengurangi kemungkinan tercemarnya susu bubuk atau susu formula yang kita beli:
    1. Siapkanlah susu di daerah atau tempat yang benar-benar bersih (higienis).
    2. Cucilah tangan sebelum mempersiapkan susu.
    3. Rebuslah botol minuman bayi terlebih dahulu sampai mencapai suhu 100 derajat celcius sebelum digunakan.
    4. Buatlah susu untuk sekali minum, usahakan jangan sampai ada sisa sedikitpun, bila tersisa, hendaknya langsung dibuang.
    5. Didihkanlah air hingga mencapai suhu 70 derajat Celcius, barulah dicampur dengan susu formula.
    6. Usakanlah agar susu yang telah dibuat dapat dihabiskan maksimal dalam waktu 4 jam setelah dibuat. Bila tidak segera diminum, simpanlah di kulkas atau tempat yang bersuhu di bawah 10 derajat Celcius. Jangan berikan pada buah hati kita bila disimapn sudah lebih dari 24 jam.
    7. Bersihkan dan rebuslah (sterilkan) peralatan untuk mempersiapkan makanan bayi kita secara rutin dan teratur.

    Milk Contaminants in infant formula that caused infections
    Contaminant Number of Outbreaks
    Bacteria
    Clostridium botulinum one infection? ( UK , 2001)
    Enterobacter sakazakii several (various countries)
    Salmonella agona one ( France , 2005)
    Salmonella anatum one (UK / Europe, 1996)
    Salmonella bredeney two (Australia, 1977; France / UK, 1988)
    Salmonella ealing one ( UK , 1985)
    Salmonella london one ( Korea , 2000)
    Salmonella tennessee one (USA / Canada, 1993)
    Salmonella virchow one ( Spain , 1994)

    Contaminants in infant formula that caused infections in hospitals
    Contaminant Number of Outbreaks
    Citrobacter freundii one
    Enterobacter sakazakii and Leuconostoc mesenteroides one
    Enterobacter sakazakii **** several
    Escherichia coli one
    Salmonella isangi one
    Salmonella saintpaul one
    Serratia marcescens one

    Demikian sedikit informasi yang dapat saya berikan. Untuk pertanyaan yang belum bisa saya jawab, akan digahas pada lain waktu atau bisa tanyakan langsung ke Bapak Dr. Hendro Pramono, MS. selaku dosen mata kuliah mikrobiologi dasar…hehe

  22. siang pak….
    hasil ujian qta gmn pak????
    makacih

  23. Selamat siang pak?

    Nile ujian ma praktikum kapan dimasukin keblog ya pak…

    deg…degan nih pak?

    Terimakasih

  24. deneng elek bae.. kepriwe kiye…………..

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.