Perbandingan Dua Media Chromogenic dan Evaluasi Dua Sistem Identifikasi pada Pendeteksi Enterobacter sakazakii

Mengenal bakteri Enterobacter sakazakii

E. sakazakii adalah satu jenis bakteria yang pada tahun 1980 dipisahkan dari spesies Enterobacter cloacae, berdasarkan unsur genetik penyusunnya. Sebelumnya E. sakazakii dikenal dengan yellow-pigmen cloacae. E. Sakazakii adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, termasuk dalam famili Enterobacteriaciae. Hidup pada pH antara 5-9 dan pada temperatur 5,5-470C. E Sakazaki memiliki banyak strain. Tidak semua strain dari E. Sakazakii ini bersifat Patogenik. Namun ada Strain dari bakteri ini menghasilkan enterotoksin yang melalui plasmid dapat dipindahkan ke enterobakter lainnya, yang merupakan flora normal saluran pencernaan manusia seperti E. coli dan coliform lainnya, sehingga Enterobacter tersebut akan menghasilkan toksin yang sama. Hal ini yang menyebabkan E. Sakazakii digolongkan bakteri yang virulen (ganas).

Bakteri Enterobacter sakazakii berbahaya

E. sakazakii menjadi perhatian karena tingkat mortalitas yang tinggi (40-80%) pada bayi yang baru lahir (0-6 bulan). E. sakazakii merupakan bakteri yang berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Enterobacter ini selain pada susu formula dapat ditemukan di produk pangan lain keju, daging, sayuran, biji-bijian, kondimen dan bumbu-bumbuan. Selain bersifat invasif, E. sakazakii juga memproduksi toksin (endotoxin) yang juga berbahaya bagi mamalia yang baru lahir yang belum memiliki sistem kekebalan yang baik. Gejala klinis apabila terinfeksi bakteri ini adalah tidak nafsu makan, suhu tubuh tidak stabil. Infeksi dalam jumlah tinggi dapat mengakibatkan neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat), dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.

Metode pendeteksian bakteri Enterobacter sakazakii

Penemuan terbaru berbasis molekuler glukosidase aktivitas pada E. sakazakii menggunakan sistem PCR, berdasar pada 1,6 glukosida digunakan untuk identifikasi E. Sakazakii, telah dievalusi pada DNA target dan tegangan tidak target. VIT (Vermicon Teknologi Identifikasi) menghadirkan suatu sistem identifikasi pendeteksi ribosomal RNA bakteri E. Sakazakii yang dilihat pada epifluorescence mikroskop. Tegangan target mudah untuk mengidentifikasi warna merah yang spesifik di bawah epifluorescence mikroskop. PCR dan VIT pengujian kadar logam konvensional dari suatu pemeriksaan identifikasi presumptive E. Sakazakii telah dievaluasi pada 98 target dan tegangan tidak target. 75 presumptive E. sakazakii dan 23 tegangan tidak target telah diteliti dengan menggunakan media chromogenic, alpha-glucosidase yang berdasarkan PCR pengujian kadar logam dan VIT pengujian kadar logam. Identifikasi ini menunjukkan suatu korelasi sempurna dengan 16S rRNA data.

Dua media berbeda telah dikembangkan baru-baru ini yaitu DFI (Druggan Forsythe Iversen) atau chromogenic Enterobacter sakazakii Agar dan Enterobacter sakazakii pengasingan Agar (ESIA) sebagai studi perbandingan. Media DFI dan ESIA mengevaluasi metode molekuler alpha-glucosidase PCR dan 16S RNA di tempat asal hybridisasi tes (VIT). DFI agar plat berkembang pada suhu 370 C dan ESIA pada suhu 440 C selama 24 jam. Media DFI dan ESIA ini memerlukan identifikasi lebih lanjut. Metode FDA pendeteksi meliputi dua langkah perkembangbiakan, yaitu subkultur kaldu pengayaan dan agar selektif (VRBG), selanjutnya memperbanyak dengan memilih pertumbuhan koloni pada TSA dan identifikasi biokimia berikutnya dari koloni yang berzat warna kuning dengan API20E. Pemeran lebih lanjut dengan API32E identifikasi, analisis phylogenetic parsial 16S rRNA tidak ada tegangan yang menunjukkan tidak adanya jenis E. sakazakii.

Kesimpulan

Bakteri Enterobacter sakazakii dapat diidentifikasi dengan koloni yang berpigmen kuning dan dari aktivitas enzim glucosidase. Hingga kini, hanya satu PCR sistem yang berdasarkan pada tersedianya rantai tunggal 16S rRNA gen urutan telah diterbitkan untuk mengidentifikasi E. sakazakii. Dengan analisa yang baru sepanjang 16S rRNA gen urutan data yang diperoleh, dapat menunjukkan kehadiran suatu garis keturunan di dalam jenis E. sakazakii. 16S rRNA gen yang mengarahkan PCR sistem untuk mengidentifikasi E. sakazakii. Kemampuan pengujian kadar logam dapat mengidentifikasi E. sakazakii. Baru ini telah berkembang alfa-glucosidase mendasarkan PCR menguji yang baik untuk komersial, VIT Enterobacter sakazakii identifikasi memperlihatkan korelasi istimewa dengan 16S rRNA data dan cocok untuk identifikasi E. sakazakii.

Nama : Dini Rochmawati

NIM : B1J006141

Email : dhienny_cute@yahoo.com

Blog : http://dh13nny.wordpress.com/

Pustaka :

Lehner,A., Nitzsche, S., Breeuwer, P., Diep, B., Thelen, k., and Stephan, R. (2006) Comparison of two chromogenic media and evaluation of two molecular based identification systems for Enterobacter sakazakii detection, BMC Microbiology, 6:15doi:10.1186/1471-2180-6-15.

5 Responses to “Perbandingan Dua Media Chromogenic dan Evaluasi Dua Sistem Identifikasi pada Pendeteksi Enterobacter sakazakii”

  1. saudara dini, aq mau komen nie,ya skalian nnya.bgini:
    ada ga kaitannya dengan bakteri yang virulen dengan toksin yang sama? trus knapa bakteri E. sakazaki mengakibatkan infeksi saluran kencing.maksudnya apanya dulu yang kena nya gt? trus one egain jelasin alfa-glukosidase mendasarkan PCR menguji yang baik untuk komersial maksudnya apa gt?

    nama : Lutfi Hadi Gunawan
    NIM : B1J006189
    Em@il : lutfi_biologi@yahoo.com
    wab : lutfibio.wordpress.com

  2. Saudara Lutfi saya akan coba jawab y
    1. Ada, pengertian patogen atau toksik untuk bakteri sendiri adalah bakteri yang bisa menyebabkan penyakit infeksi, sedangkan virulensi seberapa besar kemampuan menyebabkan infeksi. Untuk bisa menyebabkan infeksi dibutuhkan dosis (jumlah) bakteri tertentu tergantung sifat patogen dan virulensi bakteri. Misalnya bakteri Mycrobacterium tuberculosis menyebabkan penyakit tbc, yang patogen dan ganas, jika kita hisap 10 sel bakteri saja bisa menyebabkan penyakit, sedangkan Salmonella typhosa penyebab demam tifoid perlu 10.000 sel bakteri dan bakteri Vibrio cholera perlu 100.000.000 bakteri, sementara bakteri Enterobabcter sakazakii seperti Escherichia coli dan Enterobabcter sp lainnya jauh lebih sedikit untuk dapat menyebabkan penyakit misalnya bateraemia, meningitis dan hecrotising enterocolitis. Ada Strain dari bakteri yang menghasilkan enterotoksin yang melalui plasmid dapat dipindahkan ke enterobakter lainnya yang merupakan flora normal saluran pencernaan manusia seperti E. coli dan coliform lainnya, sehingga enterobakter tersebut akan menghasilkan toksin yang sama. Toksin yang sama maksudnya yaitu sama-sama menyebabkan penyakit infeksi.
    2. E. sakazakii hidup berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa. E. sakazakii berkembang optimal pada kisaran suhu 30-40°C. Waktu regenerasi bakteri ini terjadi tiap 40 menit jika diinkubasi pada suhu 23°C, yang tentunya akan sedikit lebih cepat pada suhu optimum pertumbuhannya. Bakteri E. sakazakii pada saluran kencing yang terserang dahulu yaitu saluran pencernaanya, kemudian bakteri berkembang dan masuk pada saluran kencing. Bakteri ini bisa saja masuk pada organ tubuh melalui makanan atau minuman yang tidak steril. Menurut Havelaar dan Zweitering (2004), kontaminasi satu koloni E. Sakazakii memiliki peluang hidup maksimum sebesar 6.5% untuk dapat berkembang hingga mencapai jumlah yang signifikan (1 juta sel/g produk) dalam waktu maksimal 100 jam pada suhu 18-37°C.
    3. Teknik PCR sendiri yaitu teknik untuk melipatgandakan DNA pada bakteri secara cepat dan mudah, bakteri E. Sakazakii dapat didapatkan pada beberapa produk seperti susu kaleng yang banyak diperdagangkan, sehingga untuk mengisolasinya (baik untuk keperluan penelitian maupun ilmu pengetahuan) kedalam medium pertumbuhan lebih mudah didapat karena lebih murah dan terjangkau.

  3. trimakasih atas jawabannya, dan dapat dimengerti tapi jadi ingin bertanya lagi mengenai PCR pada E.sakazakii itu bisa tunbuh berkembang di media susu misalnya.nah kemudian produk apalagi yg dapat ditumbuhi?kemudian sebahaya apakah jika bakteri tersebut masuk ke manusia?kemudian bakteri E.sakazakii itu berperan dalam pencernaan gak?seperti halnya E.coli bacillus sp.

  4. Bisa ada dimana saja. Kalau dalam bentuk susu bubuk, kuman tidak berkembang biak. Tapi kalau sudah dicairkan, kuman langsung berkembang biak, apalagi kalau suhunya nyaman, sekitar 37-40 °C. Jadi waktu diminum, jumlah kuman sudah banyak. Ini yang berbahaya karena susu merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman dan jamur, mereka tumbuh dengan memperoleh makanan dari nutrisi dalam susu. mungkin dari uraian diatas anda dapat menyimpulkan sendiri.

    Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula. Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , and necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa.

    E. sakazakii hidup berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Infeksi E. sakazakii dapat menimbulkan penyakit yang gejalanya diare, kembung, muntah, demam tinggi, kesadaran menurun dan terlihat kuning. Ditambah mendadak biru atau sesak napas hingga kejang.

  5. trimakasih atas segala jawaban dan kejelasan saudara dini. sedikit memberikan komen atau sebuah penilaian dari tugas saudara yang telah saya baca menyimpulkan tugas anda sudah baik, kelebihannya anda memaparkan tulisan yang cukup jelas dengan bahasa yang sesuai, memberikan jawaban dari pertanyaan yang menambah kejelasan tentang isi yang anda maksudkan dan isinya sesuai dan letaknya benar-benar di sub kategori namun dari semua itu anda tidak sesuai dengan aturan seharusnya tidak lebih dari 200 kata, kemudian judul dengan isi seolah-olah tidak sinambung karena menurut pendapat saya anda memaparkan E. sakazakii saja, mengenai nutrisinya sedikit. dari semua itu cukup baik juga untuk dibaca. trimakasih atas kerjasamanya. i love u my friend

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.